Tuesday, 25 September 2018

Padamu tempatku pulang

Sepertinya hari itu telah tiba, dilema besar bagi seorang perempuan justru bukan karena oranglain tapi dilema besar bagi seorang perempuan adalah dengan dirinya sendiri. Mungkin saat sukses menaklukan ego sendiri adalah sebuah kemenangan yang melegakan tapi bekas akan selalu ada, jelas saat proses itu berjalan perasaan ragu akan selalu ada.

Butuh pelarian panjang, karena sepertinya beriringan dengan itu berbagai peristiwa yang tertimbun rapi satu persatu akan bermunculan hingga semakin gundah, mungkin juga wajar rasanya disetiap diri manusia seringkali muncul perasaan seperti ini. Sayangnnya kita juga tidak bisa menghindar, hanya perlu mengahadapinya hingga tenggelam lagi pada peristiwa-peristiwa yang lalu, jelas ini hanya untuk pelajaran.

Tapi saat ia memberikan tanda kehidupan, mendengar irama detak jantungnya untuk pertama kali, aku sadar bahwa aku tidak sendiri ada kehidupan lain yang harus diperjuangkan dilindungi dan di dekap dengan sepenuh hati, karena ia begitu dekat, hidup dari darah,  keringat dan do'a-do'a ibu bapaknya.
Aku tidak tahu, kehidupan akan membawa kami seperti apa, tapi dengan cinta dari mereka aku percaya perjalanan ini akan sangat mudah dilalui, aku takan berhenti sampai waktu benar-benar membawa kami pergi. Pada-Nya ku panjatkan harapan yang paling angan untuk rumah ternyaman tempatku pulang, padamu.

Jakarta, 25 September 2018
Halim Perdana Kusuma Airport

Thursday, 12 April 2018

Ikhlas ! Kamu pasti mengenalnya

Kau pasti familiar dengan dengan kata ikhlas ini ia begitu sederhana tapi ia mempunyai makna yang dalam, tidak banyak orang yang bisa mempelajari ilmunya, atau bahkan kebanyakan orang akan menyerah mungkin tanpa ia sendiri sadari. 
Ikhlas menurut ustadz Yayat Rukhiyat ia membagikan ilmunya, dan akupun tak akan mengentikannya hanya sampai disni.

Ikhlas itu ketika menyembunyikan amal soleh sebagaimana menutup rapat keburukan, ikhlas itu ketika meniatkan seluruh ibadah hanya untuk Allah sehingga tidak bangga akan pujian dan tidak peduli pada kecaman, ikhlas itu ketika dapat menolong sesama namun tidak mengharap balasan, ikhlas itu ketika mampu berbagi rezeki meskipun dalam keadaan terhimpit, ikhlas itu ketika rela mengalah dan merendahkan ego pribadi agar tidak terjadi perselisihan, ikhlas itu ketika tersenyum melihat oranglain bahagia walaupun kita sedang berduka, ikhlas itu ketika harus melepaskan sesuatu demi kebaikan bersama sekalipun kita yang terluka, ikhlas itu ketika dihujani kata-kata yang menyakitkan tapi malah membanjirinya dengan do'a kebaikan, ikhlas itu ketika mampu memaafkan tanpa perlu mengingatnya lagi dengan kebencian, ikhlas itu ketika membalas setetes kejahatan melalui selautan kebajikan, ikhlas itu ketika menerima kenyataan bahwa takdir Allah adalah kehendak Allah walau terkadang di awal tidak seperti yang di inginkan.

Ya, ikhlas memang seperti surat al-ikhlas tidak ada kata-kata ikhlas pada ayatnya ikhlas tidak terlihat, tidak tergambarkan, tidak terdengar, tidak terdefinisi karena ikhlas hanya akan terasa di dalam lubuk hati kita sendiri yang berjaya memahaminya. Semoga kita diberi banyak kemudahan untuk menguasai salah satu ilmu tersulit dalam kehidupan ini yaitu keikhlasan.

Masih dengan ilmu ikhlas, suatu ketika, ada seorang laki-laki datang kepada Rasullulah SAW untuk mengadukan ayahnya yang telah menghabiskan uangnya tanpa meminta izin terlebih dahulu kepadanya, Rasullulah SAW memanggil ayah orang itu kehadapan beliau. Ketika lelaki jompo itu datang dengan tertatih-tatih bersandar dengan tongkatnya Rasullulah SAW bertanya :
  
"Betulkah kamu telah mengambil uang anakmu tanpa seizinnya?"
Sambil ia menangis ia menjawab pertanyaan Rasullulah SAW
"Wahai Nabi Allah, ketika aku kuat dan anakku lemah, ketika aku kaya dan ia miskin aku tidak membelanjakan uangku kecuali untuk memberi makan dia, bahkan aku terkadang membiarkan diriku menahan lapar asalkan dia bisa makan, sekarang aku telah tua dan lemah sementara anakku tumbuh kuat, aku telah jatuh miskin sementara anakku menjadi kaya, dia mulai menyembunyikan uangnya dariku, dahulu aku menyediakan makan untuknya tapi sekarang dia hanya menyiapkan makan untuk dirinya sendiri, aku tak pernah seperti dia memperlakukan aku, jika saja aku masih kuat dulu wahai Rosul aku masih akan merelakan uangku untuk dia"
Ketika mendengar hal ini air mata Rasullulah SAW jatuh berlinang seperti untaian mutiara menimpa janggutnya yang suci, dan Nabipun menjawab :
"Baiklah, demikian sabda Rasullulah SAW "Habiskan seluruh uang anakmu sekehendak hatimu, uang itu milikmu"(al-hadist). Karena engkau dan seluruh hartamu adalah kepunyaan kedua orangtuamu"

Untuk Engkau  yang orangtuannya yang masih hidup, mungkin kesempatan kita untuk berbakti kepada mereka tidak begitu lama lagi, sangat dianjurkan kita yang tinggal jauh dari orangtua pulanglah segera temui dan pandang wajah mereka dengan penuh cinta yang tulus dan ikhlas karena boleh jadi wajah itu tidak akan lama lagi menghilang dari pandangan kita untuk selama-lamanya. Semoga yang kita lakukan menjadi amal soleh dan menjadi ibadah sebagai wujud pengabdian kita kepada kedua orangtua yang sangat kita cintai.

Engkau tau? pengabdian juga termasuk ilmu ikhlas yang tertingi. terkadang kita lupa tapi kita punya kesempatan untuk saling mengingatkan.

Halim perdana kusuma Airport
12 April 2018
 

Wednesday, 11 April 2018

Apa Arti Kebebasan Menurutmu?

Apa arti kebebasan menurutmu?
Jawabannya pasti sangat beragam, bagiku kebebasan itu adalah saat kita tertawa dengan lebar mentertawakan diri kita sendiri, melakukan sesuatu dengan suka rela dan yang lebih penting justru menurutku kebebasan itu kita tidak pernah bebas.
Aku tak memaksa kau setuju dengan pendapatku atau tidak, karena untuk sebagian orang justru kebebasan adalah tentang dirinya sendiri.
Kita tentunya harus lega bahwa kebebasan justru tidak membuat kita bebas melakukan apapun, ada peraturan dari semesta juga hati-hati yang harus dijaga saat melakukan sesuatu, karena sedikit saja kita bebas tanpa melihat itu semua, maka selamanya akan menyesal itu karena kita tidak bisa mengulang apapun yang sudah dilewatkan, yang sudah dilakukan, tapi baiknya semesta adalah kita masih tetap bisa mengambil pelajarannya meski tidak lagi sama.
Aku percaya, kebebasan yang kau ciptakan tak akan melukaimu juga semesta ini karena sejatinya Tuhan selalu lebih dekat dari urat lehermu, dari nadi, dari kisah-kisah kita. Dia akan menjagamu, menjaga kita lebih dari selamanya itu lah kebebasan.

Halim perdana kusuma Airport
Jakarta, 11 April 2018


Wednesday, 28 March 2018

Alangkah Lucunya

Katamu negara ini kaya dan sumberdaya nya harus dilindungi
Tapi kau injak-injak kami seperti tidak punya harga diri
Katamu pendidikan itu penting untuk kecerdasan anak-anak dimasa depan
Tapi orang-orang cerdas kau abaikan tanpa pertimbangan
Ah alangkah lucunya..
Katamu kita harus hemat
Tapi kau menghamburkan uang seperti tak pernah berfikir
Katamu kita harus makan sehat agar asupan gizi terjaga
Tapi kau ambil hak kesehatan kami
Ah alangkah lucunya..
Katamu kita harus bekerja keras demi kemajuan
Tapi kau ambil pula hak tenaga kami
Katamu kita harus disiplin 
Tapi kau telat tak jadi masalah
Ah alangkah lucunya..
Katamu kita harus pintar
Tapi pembodohan dimana-mana
Katamu kita harus taat peraturan
Tapi semua peraturan kau langgar
Ah alangkah lucunya..
Katamu kita harus gigih demi kesuksesan
Tapi kau buat kami seperti boneka
Katamu kita harus kerja keras 
Tapi kau curigai kami seolah pencuri
Ah alangah lucunya..
Katamu kita harus totalitas 
Tapi kau buat kami mengemis hak kami sendiri
Katamu hidup itu keras
Tapi kau buat kami lemah dengan kekuasaanmu
Ah alangkah lucunya..

Katamu kita harus bekerja jujur
Tapi kau terus saja membohongi
Katamu kita harus bijaksana
Tapi kau buat kami menjadi seorang munafik
Ah alangkah lucunya..

Halim Perdana Kusuma Airport
Jakarta, 28 Maret 2018 


Wednesday, 21 March 2018

Sang Penandai : Dia Yang Tidak Memanusiakan

Hari ini aku bertemu dengan sang penandai setelah sekian lama ia tak mengunjungiku untuk menceritakan dongeng-dongeng hebatnya. Aku penasaran dongeng apa yang akan dia ceritakan padaku, katanya beberapa hari yang lalu saat aku melewati pohon-pohon rindang dijalanan terjal terdengar angin berbisik diantara pohon-pohon ia menceritakan seseorang wanita yang tersohor di semesta ini. Apa mungkin wanita itu jua yang akan sang penandai ceritakan?

Benar ternyata, dia duduk di depanku sambil terkekeh tertawa menceritakan seorang wanita yang gagah, dermawan, arif dan bijaksana samun juga tegas. Perjuangan dan prestasinya hingga saat ini sangat mengagumkan, semua orang memujinya menatap dengan penuh kekaguman. ah orang politik selalu cerdas, kata sang penandai sambil merapihkan anak rambutnya. Aku masih antusias mendengar kisahnya sesekali juga melihat ke arah jendela melihat kepakan pohon menari-nari menikmati irama yang dibawa sang angin.
Dia hebat, semua memujanya orang-orang berdecak kagum melihat prestasi yang sudah dia dapatkan, kau tahu?
tentu itu semua bukan gratis ada harga yang harus dibayar nanti, dibalik kesuksesanya didepan sang semesta ada sekumpulan orang yang justru bekerja keras untuk tumpuannya, tapi aku menyaksikan mereka tidak bahagia, hal sebaliknya ada banyak hal ketidakmanusiaan yang dia lakukan pada mereka tentu saja orang-orang itu tidak akan pernah berani menentang dan berbicara, karena mereka hanya boneka mainan yang dia mainkan ketika dia kelelahan. Seseorang yang sudah mempunyai kekuasaan tentu kadang bersikap tidak waras, dia tidak tahu sesampainya dipuncak hari ini adalah berkat merangkak dari bawah dengan dukungan banyak orang. Sayang sekali ia tak menyadarinya.

Kau tahu?
diluar sana sangat gaduh sekali karena saking banyaknya orang-orang yang hidup di dua alam sepertinya, makanya aku lebih suka untuk tidak menetap lama di satu tempat. Kita harus sadar bahwa memang kehidupan ini hanyalah panggung sandiwara mereka memerankan perannya masing-masing, ada yang menjadi tikus, ada yang menjadi buaya ada juga yang menjadi katak dan yang lainya hanya menjadi tumbuhan-tumbuhan kecil yang sewaktu-waktu bisa di injak bebas oleh mereka yang mempunyai kekuasaan, ah sungguh pertunjukan yang membosankan. 

Terkadang kekuasaan bisa menggelapkan manusia hingga lupa dari mana ia berasal, dengan semua kekuasaan yang ia punya ia bisa menggerakan apa saja, menghalalkan semua cara karena mereka tidak punya tuhan, tuhan mereka hanyalah kekuasaan. Kasian sekali yang mengadah dibawah, mereka adalah manusia yang tidak dimanusiakan.

Sambil berdehem sang penandai berjalan pamit mengapitkan kedua tangannya, lantas tersenyum. suatu saat akan aku ceritakan dongeng yang lain. keluarlah dari zona nyamanmu, kau tidak bisa berdiam diri hanya menyaksikan atau bahkan berperan sebagai rumput. kau harus keluar mencari penghidupan yang penuh dengan manusia yang berjiwa besar dan memanusiakan manusia.

Halim Perdana Kusuma Airport
Jakarta, 21 Maret 2018

Friday, 23 February 2018

Hidupmu adalah milikmu

Hari ini sang penandai menemuiku lagi, ia tidak menceritakan kisah  tapi memberikan nasihat perjalanan agar perjalanan yang dilalui sekarang menjadi kisah untuk yang lain, sepertinya ia akan menciptakan dongeng yang baru.

Sejak engkau dilahirkan hingga hari ini bukan semata-mata karena kerja keras dirimu sendiri tapi banyak elemen yang saling bertautan, mulai dari sang Maha pemilik yang masih memberikan kesempatan untuk menambahkan keimananmu kepada-Nya, orangtua mempunyai peranan yang sangat besar  sampai pada do'a-do'a orang-orang terkasih yang tidak engkau ketahui, dirimu tidak mungkin melupakan itu.

Dalam setiap jejak langkah, jalan yang di lalui akan selalu tidak mulus pasti ada kerikil, berkelok atau bahkan curam tak mengapa semua itu untuk membentuk dirimu menjadi manusia yang bisa memanusiakan yang lain. Segala keputusan yang kamu telah ambil untuk menyusuri jalan ini tentu mempunyai konsekuensi yang harus ditanggung berat atau tidak itu tergantung seberapa sulit kamu memilih jalanya. dan kamu telah memilih jalan ini.

Pada awalnya mungkin ini akan terasa sulit tapi lama semakin lama kamu akan menjadi mahir menjalaninya, tentu disetiap perjalanan ada cinta yang tersimpan, yang terbentuk dan yang telah menemani, tanpanya perjalanan ini akan terasa biasa saja bahkan mungkin penuh dengan kesedihan dan airmata. Tentunya, hidupmu adalah milikmu sendiri apapun yang telah kamu putuskan itu akan membentuk menjadi takdir dirimu sendiri dengan keridhaan-Nya. 

Kamu bebas memiliih apa pun karena itu adalah hidupmu ciptakanlah dongengmu sendiri dengan indah karena dirimulah yang paling mengerti untuk menjalaninya. Orang bisa ikut bahagia dengan kebahagiaanmu, tapi tidak banyak orang yang mau merasakan kepahitan atas segala yang kau putuskan dalam hidupmu. Karena cinta tidak cukup hanya hasrat, tapi juga pengorbanan dan rasa maaf. Tugas cinta itu adalah memberi dan membahagiakan tanpa perlu berharap dengan hitungan yang sama.


Halim Perdanakusuma Airport
Jakarta, 23 Februari 2018


Wednesday, 21 February 2018

Reruntuhan kisah 28 tahun

Kelak saat aku bertemu denganmu aku ingin mengenalkan sang penandai yang handal, dia adalah ahli dalam menceritakan sebuah kisah, aku ingin kau mendengar kisahnya yang ia ceritakan juga kepadaku seseorang yang gagah dan tegar yang terus berjalan diantaran reruntuhan kisah - kisah kehidupannya.

Mungkin bukan hal yang mudah yang ia jalani, mendengar kisahnya dari sang penandai aku seperti mengenalnya sangat dalam, ia yang keras namun juga lembut, rapuh namun juga tegar, tidak punya hati namun juga penuh cinta. Kehidupan seperti telah menempanya begitu dalam, imajinasiku berlari jauh ingin menyaksikan bagaimana ia melewati jalan terjalnya sendiri, aku tak mendapatkan informasi dari sang penandai dimana aku bisa menemuinya. Dari kisahnya ia begitu istimewa bagaimana bisa kau bertemu dengan orang yang keras namun juga lembut, rapuh namun juga tegar, tidak punya hati namun juga penuh cinta rasanya tidak ada orang seperti itu bukan, ia mempunyai peran yang berbeda itu sangat wajar dari semua rentetan kisah yang sudah ia lalui selama 28 tahun hingga hari ini bahkan. 

Begitu piawai sang penandai menceritakan kepadaku, kau harus dengar bagaimana ia melalui hidupnya dengan gigih. Bagi yang tidak mengenalnya mungkin hanya sisi gelap yang bisa kau lihat tentu saja yang keras tanpa kelembutan, yang rapuh tanpa ketegaran atau bahkan yang sadis tanpa rasa cinta seperti melekat erat pada dirinya. Tapi, sisimu yang lain tidak perlu kau jelaskan pada mereka karena jika mereka yang telah mengenalmu yang telah mencintaimu mereka tak membutuhkan itu, mereka akan selalu bisa melihat sisi lembutmu, sisi tegarmu juga sisi penuh cintamu mereka semua bisa melihat itu tanpa kata, tanpa bertanya. Hening, namun jiwa kalian berkata-kata.
  
Diluar mungkin ia seperti laut yang bergemuruh namun begitu tenang di dalamnya, mungkin laut itu begitu menakutkan karena ia akan menghancurkan siapa saja yang menghampirinya dengan melawan arus tanpa mengikuti ritmenya jika kau kuat maka kau akan sampai dikedalamanya yang begitu tenang tapi jika kau tak sanggup mengikuti arusnya dan bersikeras melawanya maka aku pastikan kau akan tenggelam tanpa tahu bahwa di dalamnya ia begitu tenang.

Sang penandai, terimakasih telah bercerita padaku tentang sosoknya, kelak akan ku ceritakan lagi kisahnya pada yang lain, agar mereka tau bahwa semua yang terjadi pada kehidupan ini memiliki buah, jika kau menanam buah dengan rasa yang manis maka kau akan mendapatkan buah yang manis juga, tapi jika kau menanam buah yang rasanya pahit maka buah itulah yang akan kau petik sendiri. 
Kehidupan selalu adil, seseorang yang telah memberikan kehidupan manis tentu tidak akan mendapatkan kehidupan yang pahit begitupun sebaliknya ia selalu adil tanpa kita duga. Atau kau sendiri yang tidak pernah mengerti keadilan?


Halim Perdanakusuma Airport
Jakarta, 22 Februari 2018

Friday, 2 February 2018

Perjalanan ia yang disebut sang 'Dewi'

Sudah hampir seminggu aku menunda untuk menulisnya, bukan karena banyak pertimbangan tentang dirinya tetapi pekerjaan menuntut meminta perhatian lebih dariku.
Aku ingin bercerita tentang perjalanan ia yang disebut sang 'Dewi' oleh 'Tuan putri' yang pernah bertemu dalam perjalanannya menuju pulang.
Sudah lama aku tak mendengar kabarnya, bahkan cerita tentangnya seakan ikut hilang bersama dengan kabut kemarin sore setelah perkawinan bunga dan kumbang di saat gerimis datang. Ia seperti hilang tanpa jejak, sengaja.

Seiring dengan perjalanan dan keputusan yang telah diambil mungkin pada akhirnya ia telah kembali ke titik awal dimana nama 'Dewi' tak ada untuk dirinya. Namun juga tidak mudah menjalani hidup seperti dirinya.
Aku hanya sanggup mendengar ceritanya dari sayup angin yang datang sebentar lantas kembali hilang, yang ia lalui hari ini adalah buah keputusan dari sang putri yang telah menegaskan dari awal sebelum tragedi  perkawinan kumbang dan bunga yang tak akan ia lupakan bahkan mungkin akan selalu ia kenang, meski sedikit memberatkan langkahnya, bukan karena tragedinya tapi janji yang tak sanggup ia tepati.

Bukan hanya 'Tuan putri' yang telah memintanya berhenti tetapi 'Malaikat tanpa sayap' itu juga memintanya untuk berhenti aku tau ini hanya untuk melindungi dirinya 'Dewi'.
Apapun yang terjadi dalam pengembaraanya, bahwa mungkin ia telah kehilangan sebagian hati yang lain meski yang lain telah menggenapkan. Aku tau ia 'Dewi' telah memilih jalannya.
Tak akan ada yang berubah meski mereka memintanya pergi bahkan untuk kembali tentu ia akan tetap berjuang mengutuhkan kaca yang telah terlanjur pecah tentunya dengan bantuan tangan sang Penguasa. 

Tetapi aku juga percaya ia 'Dewi' juga tak mungkin diam saat ini meski bergerak tanpa suara mengendap - endap bagai kancil yang sedang mencuri timun, tapi itulah caranya agar tak terdengar oleh juragan sang pemilik kebun dalam legenda sang penandai.
Jika aku tidak mengatakannya bukan berarti aku tidak merasakannya. Aku hanya tidak menemukan kata-kata yang lebih besar dari perasaanku.

Jakarta, 02/02/2018
Halim Perdana kusuma Airport


Monday, 8 January 2018

Kamu Menyukai atau Mencintainya?

Hidup itu kadang unik, kadang kita begitu menyukai atau mencintai sesuatu baik itu hobby, pekerjaan ataupun barang. Tidak sedikit banyak orang yang mati-matian untuk memenuhi hobbynya, meluangkan banyak waktu untuk menatap pekerjaan di layar datar yang mereka sebut monitor atau bahkan tidak sedikit juga mereka yang mengkolektor barang-barang yang unik karena mereka suka. Lupa waktu akhirnya tenggelam hingga menjadi hal yang biasa. 

Kadang mereka tidak sadar bahwa mereka telah melupakan orang sekitar terutama keluarga, Ayah, ibu, adik, kakak, anak, istri, suami atau bahkan yang paling mengerikan bisa jadi ia melupakan Tuhanya sendiri. Mereka lupa bahwa sebenenrnya mereka punya itu semua. Terkadang pikiran kita juga jahat dengan uang semua akan beres tapi ia lupa bahwa cinta dan kasih sayang tidak bisa dibeli dengan uang.
Coba kamu pikirkan apa perbedaan suka dan cinta?
Coba kamu pikirkan lagi, kamu menyukainya atau mencintainya?
Karena, seseorang yang telah mencintai sesuatu ia akan memberikan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya, yaitu Waktu.
Jadi jika dia tidak mempunyai waktu untukmu berarti dia tidak mencintaimu dia hanya sekedar menyukaimu tidak lebih. Karena jika dia cinta, dia akan selalu mempunyai waktu untukmu tanpa alasan apapun.  

Sederhana bukan? 
bahkan mungkin sebagian orang tidak menyadarinya, yuk kita mulai berbenah jangan sampai kita mencintai atau menyukai sesuatu yang bukan seharusnya kita cinta dan kita suka

.

Wednesday, 27 December 2017

Ada luka yang tidak bisa disembuhkan oleh Waktu

Jika berbicara tentang luka, luka pada fisik akan mudah disembuhkan meskipun pasti selalu akan ada bekasnya, tak apa karena sudah tak terasa lagi sakitnya namun saat melihat bekas luka tersebut pikiran kita akan otomatis bekerja merekam detik demi detik kejadian yang menyebabkan fisik kita terluka. 
Berbeda dengan luka hati ada pepatah mengatakan "Waktu akan selalu berbaik hati untuk mengobati hati yang telah luka" itu mungkin tidak berlaku bagi beberapa orang yang telah mendapatkan luka batin yang mendalam juga luka kekerasan secara psikologis yang telah dilakukan oleh orang lain terutama orang-orang terdekat dalam hal ini adalah keluarga. 
Luka dalam yang terjadi pada seseorang secara terus menerus akan menyebabkan trauma tersendiri dalam dirinya sehingga terprogram dalam pikiran dan hatinya, berbagai jenis penolakan hingga keinginan yang tidak mampu diwujudkan oleh pihak lain juga mempengaruhi luka itu sendiri yang pada akhirnya berimbas pada prilaku karena prilaku itu hadir dari pikiran dan hati hingga terrealisasikan menjadi gerak tubuh.

Itu sebabnya banyak orang-orang yang bermasalah dengan oranglain atau lingkunganya bukan karena mereka sepenuhnya bersalah tapi karena sebenarnya ia sendiri bermasalah dengan dirinya sendiri. Luka yang ada  akan sulit disembuhkan bahkan oleh waktu, perlu beberapa tahun mungkin berpuluh tahun untuk bisa memaafkan dan mengobati hatinya sendiri. Mereka sebenarnya memerlukan kita yang secara sadar telah menyadarinya bahwa ada yang keliru dalam dirinya untuk bisa membantu, namun sayangnya ia sendiri  tidak menyadari bahwa dirinya sedang membutuhkan oranglain.
yah begitulah memang melihat orang lain itu justru lebih mudah, dibandingkan melihat diri kita sendiri itu kenapa kita selalu memerlukan oranglain untuk bisa selalu membantu kita.

Setelah ini siapa yang akan disalahkan?
Pihak mana yang menjadi prioritas penyebab kenapa terjadi hal demikian?
Tidak, tidak lagi ada yang perlu disalahkan ini adalah pelajaran.Kita memang tidak bisa mengatur oranglain untuk berbuat apa terhadap kita, selain kita menjaga diri sendiri untuk tidak berbuat yang menyebabkan melukai oranglain baik secara fisik ataupun secara psikis antar keluarga, baik orangtua terhadap anak ataupun sebaliknya.

Dalam kehidupan ini kita selalu belajar ilmu ikhlas dan sabar untuk beberapa orang mungkin akan lebih mudah melaluinya tapi untuk beberpapa orang juga akan sulit menjalankannya. Kita tidak tahu ikhlas dan sabar itu seperti apa bentuknya, baunya bahkan bunyinya tapi kita selalu tahu dari mana semua itu berasal.  

“Jangan pernah mematahkan dan melukai hati seseorang karena mereka hanya punya satu. Patahkan saja tulangnya, mereka punya 206 dalam tubuhnya!” –Jay Von Monroe

Jakarta, 12 Desember 2017
Halim Perdana Kusuma, Renti Susanti.

Wednesday, 27 September 2017

Kita tidak hidup untuk oranglain, but for myself.

Kita tidak hidup untuk oranglain, but for myself.
Kata - kata itu memang terdengar klise bahkan terdengar sangat egois bagi sebagian orang yang tidak punya pandangan. Pandanganpun tentu akan berbeda-beda tergantung bagaimana ia belajar, bagaimana pola pengasuhan orangtuanya, bagaimana ia hidup dan bagaimana perjalanan hidupnya dalam proses pendewasaan. Tentu, pandangan seorang guru akan berbeda dengan pandangan seorang dokter, pegawai swasta, pengangguran atau bahkan mereka yang sakit dan sudah tidak punya harapan hidup lagi. 
terserah kalian bagaimana memaknai tulisan saya. saya tidak akan memaksa kalian untuk setuju atau mengikuti cara pandang saya, karena sejatinya kita memang berbeda sekaligus kaya dengan cara pandang yang berbeda.
Kembali ke topik yang akan saya tulis hari ini, "Kita tidak hidup untuk oranglain, tapi untuk diri kita sendiri".
Saya banyak belajar dari mereka, dengan latarbelakang kehidupan yang berbeda, selalu kagum atau bahkan sesekali tidak setuju dengan cara pandangnya. Tetapi, hidup ini bukan untuk setuju atau tidak setuju karena dengan berbeda pandanganpun kita masih tetap menjalani hidup dengan baik, saling bergandengan tangan, saling membantu dalam kebaikan dan tetap saling mengasihi satu sama lain.

Jiwa yang sakit karena luka masalalu cenderung akan lebih sulit menghadapi beberapa situasi terlebih jika masih berinteraksi. Mungkin butuh beberapa tahun untuk bisa pulih supaya ia bisa menerima, tapi itupun tidak bisa menjamin seseorang akan sembuh dari luka masalalunya. Seperti paku yang ditancapkan pada papan, kita mungkin bisa mencabut paku itu tapi tidak akan bisa menghilangkan bekasnya. Begitulah manusia akan selalu meninggalkan noda untuk manusia yang lainya. 
Mungkin ini tampak sepele bahkan dengan pandangan yang merendahkan kita akan berfikir setidak pemaafkah orang itu, bahkan tuhan saja maha pemaaf. Semua orang sah-sah saja berpikiran demikian tapi ingat kita tidak pernah merasakan hidup oranglain, kita tidak tau bagaimana orang itu untuk tetap kuat dengan luka masalalu yang dalam, kita juga tidak tau apa saja yang sudah ia hadapi dalam menjalani hidupnya diluar usahanya untuk menyembuhkan luka masalalunya.

Bagi seorang anak orantua adalah tombak utama, sekaligus busur panah bagaimana ia melesat , sampai pada tumpu kah atau bahkan melenceng dari busur tergantung dari kekuatan tarikan yang diberikan. Luka masalalu pada keluarga jauh akan lebih dalam dan membekas dibandingkan dengan yang lainya. Hari ini aku berbincang banyak dengan orang itu, banyak pelajaran yang bisa direnungkan, bahkan jika aku ditempatkan pada posisinya belum tentu bisa menghadapinya.  Begitulah manusia tidak ada yang sempurna dengan segala keterbatasan yang ada.

Dengan segala luka yang ada, dan upaya untuk membahagiakan oranglain dan diri sendiri, kita butuh upaya yang besar untuk bisa melihat senyum bahagia orang-orang tercinta. Segala keputusan, cita-cita dan jalan yang akan diambil tentu memerlukan beberapa pertimbangan orang-orang terkasih, seolah merekapun terlihat punya andil sibuk mengatur ini itu  tapi justru kita hidup tidak untuk mereka, kita berhak dengan semua keputusan yang akan kita ambil, kita berhak menentukan jalan mana yang akan kita tempuh dalam perjuangan ini. disinilah dilema besar dalam perjalanan hidup kita, sangat tidak salah jika kita berpikir bahwa  hidup bukan untuk oranglain, tapi untuk diri sendiri.

Jika direnungkan, kita tidak tau doa siapa yang telah membuat kita sehat, sukses, melewati hidup dengan mudah dan semua jalan keluar yang ada. Kita tidak tau itu do'a-do'a siapa, masihkah bersikap jumawa?
Tentu dengan segala keputusan yang ada, meskipun pada akhirnya kita berat untuk mengambil keputusan tersebut karena tekanan di luar diri kita lebih besar dan berisiko tinggi, maka mudah-mudahan keputusan yang berat yang sudah kita ambil atas dukungan dari luar semoga memberikan kebaikan yang lebih besar pula itu semua tidak lain hanya ingin membuat semua menjadi baik-baik saja, meskipun kita sendiri hancur. Janji Allah itu pasti,  siapa yang tidak percaya ini bagi orang yang beriman yang penuh dengan pengharapan tentunya ia akan selalu percaya pada janji-Nya.

“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7)
Kita memang tidak hidup untuk oranglain, Tapi untuk diri kita sendiri karena sebaik-baiknya manusia adalah ia yang memberikan banyak manfaat bagi oranglain.
Jika kita tidak punya harta maka kita punya ilmu, jika kita tidak punya harta dan ilmu maka kita punya tenaga dan jika kita tidak memiliki semuanya maka kita memiliki diri kita sendiri untuk bisa membuat banyak orang tersenyum bahagia. Awalnya mungkin akan sulit tapi itu justru ladang untuk kita tetap rendah hati, Sungguh Allah Maha Melihat dengan segala pengorbanan yang kita pebuat untuk oranglain.

Wallahu A'lam Bishawab

Friday, 24 February 2017

Kepercayaan atas dasar cinta dan kesetiaan adalah seperti cermin

Memutuskan untuk tidak hidup sendiri adalah bukan perkara mudah, banyak yang akan kita korbankan tapi itu bukanlah permasalahanya karena jika kita cinta ia pasti akan berkorban. Cinta itu tidak ada yang sederhana karena ia selalu berdampingan dengan kesetiaan denganya cinta selalu tampak mewah. Cinta tanpa kesetiaan "TIDAK ADA".
Jika berbicara tentang pasangan, cinta dan kesetiaan tentu kita tidak bisa melewatkan pengkhianatan. Engkau tau, berapa banyak kekuatan yang dikumpulkan seseorang untuk bisa kembali utuh dari sebuah pengkhianatan yang telah dilakukan oleh pasangannya? bukan hidup yang mudah untuk dijalani saat kita mengetahui ia yang kita sebut sebagai cinta kita yang selalu di agungkan berkhianat dengan mudahnya. Kita mungkin bisa memaafkanya tapi tidak bisa memberikan kesempatan untuk orang yang telah berkhianat. Jikapun memberikan kesempatan yang sama, maka jangan harapkan akan utuh seperti saat pertama. 

Engkau pernah melihat cermin?
Indah bukan saat melihatnya, apalagi saat kita berdiri didepannya ia pun berdiri dengan tegaknya kita melihat seolah kita juga hidup di dalamnya, menirukan gerakanya, tertawa, menangis bahkan kadang tertawa sambil menangis sekaligus. Tapi saat ia memecahkanya maka tidak akan pernah utuh lagi bahkan mustahil engkau bisa berdiri di depanya seperti saat pertama.  Seperti itulah kepercayaan yang dibangun dengan penuh Cinta hidup, menjadikan kita juga hidup di dalamnya.  Kepercayaan atas dasar cinta dan kesetiaan adalah seperti cermin, karena kita selalu bisa bercermin pada yang lainya agar selalu diingatkan bahwa yang salah itu salah dan benar itu adalah benar, darah, keringat, sakit dan letih semua itu kita yang merasakan tidak ada yang bisa menggantikanya, kita berperan dengan peranan masing - masing tapi kita selalu punya cermin untuk bisa melihat diri kita sendiri.






Wednesday, 22 February 2017

Tidak ada pilihan yang tersisa dalam kehidupan kita, selain hanya diri kita sendirilah pilihanya.

Kadang hidup memang lebih sering berisi apa yang tidak kita inginkan, dan kita seakan - akan dipaksa masuk kedalamnya, merasa tak punya pilihan, hingga satu - satunya pilihan yang tersisa adalah diri kita sendiri. Tapi dari semua hal yang kita jalani pasti selalu ada hal yang lebih baik, sukar memang dan bukan perkara mudah tapi apapun itu semoga kita termasuk orang - orang yang pandai dalam berdamai dengan diri sendiri.

Faktanya ini bukan tentang apa dan siapa kita dihadapkan, semua itu seringkali tidak begitu berpengaruh justru yang menjadikan semua itu terasa sulit adalah diri kita sendiri. Kita cenderung terpaku dan sulit menerima baik keadaan ataupun orang yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Tapi, apakah kita harus menolaknya? atau bahkan menerimanya? keputusan inilah yang sebenarnya akan memberikan perubahan besar dalam kehidupan kita. Lagi - lagi kembali pada diri kita sendiri, saat kita berdamai mungkin kita akan lebih mudah menjalaninya tapi saat kita sulit untuk berdamai maka semua hal yang kita jalani secara terpaksa akan semakin berat dan perlahan tapi pasti ia akan membunuh diri kita sendiri. 

Tidak perlu terburu - buru untuk memutuskanya karena faktanya kita perlu perenungan yang mendalam, petunjuk dari sang maha atas semua do'a - do'a yang kita rapalkan dalam setiap sujud - sujud panjang disepertiga malam, beristirahat sejenak untuk memulai dan berjuang dengan semua keputusan yang telah kita ambil. ini mungkin adil yang menyakitkan ; ia boleh diam tanpa memberi petunjuk, tapi ada juga hati yang bersiap pergi tanpa mengangkat telunjuk.

Tidak ada pilihan yang tersisa dalam kehidupan kita selain hanya diri kita sendirilah pilihanya, karena sejatinya orang yang beruntung ialah mereka yang mampu menerima diri sendiri. Mencintai tubuhnya dan merawat tabahnya. Apapun bentuknya kita hanya akan selalu belajar untuk berdamai sampai kita menjadi seseorang yang mahir semakin di asah maka semakin tajam semakin merunduk dan semakin bersyukur. Tak ada yang sia - sia selama kita berdamai dengan diri kita sendiri atas semua hal yang telah di hadapkan dan ditetapkan. Pilihanya hanya satu yaitu KITA BAHAGIA.

Berkaca dari perjalanan ke Negeri Gajah Putih

Berbicara perjalanan 3 bulan yang lalu ke negeri sebrang Negeri Gajah Putih 5 hari cukup membuat lelah segala - galanya (termasuk isi dompet) haha.. tapi saya tidak akan membahas isi dompetnya karena itu sudah menjadi sebuah resiko, saya hanya akan berbicara apa yang kita dapatkan dari perjalanan ini.

Dimulai dari sini take off dari Jakarta jam 6:55 sampai disana 10:45 lumayan seperti perjalanan naik kereta dari jakarta ke bandung, tak ada yang berbeda disana masih satu langit yang sama panas seperti jakarta, tatanan kota yang hampir mirip yang membedakan hanya disana lebih bersih dan sedikit maju dari negeri sendiri (ini tugas kita sebagai anak bangsa ya, untuk bersaing memajukan negeri sendiri !). Terlepas dari itu semua yang saya suka dari negeri gajah putih ini adalah mereka kental dengan tradisi menjaga dengan sebaik - baiknya. perjalanan kesana bertepatan dengan upacara peringatan kematian Raja Thailand, dari semua sudut kota berkumpul di satu titik ditengah - tengah kota , mereka berdo'a dan membagi - bagikan  bunga, makanan, snack, minum dan buah - buahan secara gratis disepanjang jalan kepada seluruh masyarakat yang hadir ataupun hanya sekedar lewat termasuk kepada kami pada saat itu yang notabene memakai jilbab tapi mereka tetap tersenyum dengan ramah (kami hanya mengambil minum dan buah - buahan saja yang pastinya sudah halal).

Di negeri ini muslim menjadi minoritas, dihari pertama lebih sulit mencari mesjid karena kami belum menguasai medan disana, hanya bermodal google map yang terkadang jalanya membawa kami terasa sangat rumit dan lelah tentu dalam kondisi seperti ini marah lebih mudah datang sampai dihari pertama kami memutuskan kembali ke hotel untuk mengerjakan shalat karena tak kunjung menemukan mesjid sampai waktu hampir habis. Selain mesjid yang sulit ditemukan di negeri ini, makanan menjadi urutan kedua yang sulit ditemukan. Mencari mesjid dan mencari makanan halal sama lelahnya kami harus berjalan berkilo kilo meter untuk mencapainya ujung - ujungnya kalau tidak junk food ya makanan india yang menjadi pilihan terakhir saat perut sudah tidak bisa berkompromi lagi. Tentu saja citarasa makanan nya pun menyesuaikan dengan lidah mereka tapi setidaknya masih bisa kami telan.

Berwisata ke banyak tempat mulai dari The Grand Palace,Wat Arun (Temple of Dawn), Wat Arun - Central Pier, Central Pier - Asiatique, Asiatique Night Market, Pattaya, Buddha Mountain, Silverlake, Madam Tussaud dan terakhir ke Chatuchack Weekend Market. dari semua tempat yang dikunjungi jangan berharap semua berbau religi karena muslim disini minoritas jadi lebih banyak kuil - kuil yang dikunjungi tapi tentunya selain pengalaman ada banyak pelajaran yang bisa penulis ambil. Bertemu mesjid dan bertemu sesama muslim disana sensasinya sangat berbeda jauh dan hanya akan bisa dirasakan oleh orang - orang yang sedang dalam perjalanan.

Hikmahnya adalah : dari semua perjalanan terkadang kita tidak sadar bahwa kita seharusnya lebih banyak bersyukur diberikan usia dan kesempatan untuk bisa memetik banyak pelajaran dari semua yang ditemukan. Di dalam hidup ini terkadang kita selalu berlaku egois mementingkan diri sendiri nyatanya dalam kehidupan kita selalu membutuhkan orang lain. Silaturahmi dan pertemanan yang harus selalu dijaga, belajar mengontrol emosi dalam setiap keadaan. Disini seyogya nya kita lebih bersyukur bisa merasakan nikmatnya beribadah dengan mudah, makan dengan mudah tanpa harus memilah - milah berjalan berkilo kilo meter jauhnya untuk mencari yang halal, menikmati udara segar tanpa bau aroma yang tak sedap (babi). Terkadang dengan kemudahan - kemudahan yang telah diberikan oleh sang maha kita cenderung sering melewatkan hal - hal kecil yang sebenarnya itu bermakna besar.

Thursday, 2 February 2017

Profesi membuat kita bertanya masih adakah kebaikan yang tulus?


Hari ini adalah hari yang luar biasa bukan karena hanya dapet undangan nonton galapremier salah satu film terbaik indonesia tetapi juga karena bisa bertemu dengan orang - orang luar biasa, berbagai karakter saya temukan disana senang sekali memperhatikan mereka. Tetapi perhatian saya terpecah ketika ada sang pemilik datang menghampiri kemudian kami mengobrol. Dalam pandangan mata manusia Beliau kaya dalam ukuran materi banyak uangnya itu sudah pasti karena beliau termasuk orang yang sukses didunia kepenulisan tapi saya kagum meskipun begitu beliau tetap terlihat bersahaja pakaiannya sederhana, ramah pada orang baru dan tetap tulus pada orang - orang lama yang ada disekelilingnya, itu terpancar jelas bukan dibuat - buat untuk pencitraan. Siapa yg tidak mengenalnya bahkan semua orang mengenalnya tapi beliau paham kekayaan yang sebenarnya justru bukan pada apa yang sudah beliau dapatkan selama ini tetapi ada pada hatinya. Itulah hakikat kekayaan yang sesungguhnya.

Dalam perbincangan kami selama kurang lebih 20 menit dimeja panitia tapi cukup membuat saya tertegun berpikir ulang. Percakapan kami dimulai dari siapa nama, orang mana dan sedang apa dijakarta (selain nonton galapremier hari ini) kami berbicara membahas banyak hal tapi seketika hening saat kami berbagi pengalaman tentang pekerjaan kami. Kuperkenalkan pekerjaanku saat ini, kemudian beliau diam sebentar mengambil jeda untuk mulai melanjutkan percakapan. Beliau bilang bila bekerja dikeuangan sebenarnya enak tidak terlalu ribet dan juga pasti orang - orang akan bersikap baik pada kita tetapi juga disana ada konsekuensi yang sangat besar ini adalah amanah dan yang lebih repotnya lagi saat kita bekerja dibagian ini kita sukar membedakan mana yang tulus dan mana yang tidak tulus. Suatu saat kamu akan bisa membedakan mana orang yang benar - benar tulus dan mana yang hanya mengambil keuntungan darimu. 
 
Kamu jangan salah dikota ini mungkin 1 dari 1000 orang yang benar - benar tulus berteman denganmu yang sudah kamu temui. Kenapa? karena semua orang akan pamrih disini, di dalam mungkin terlihat manis tapi setelah kamu keluar kamu sendiri akan merasakanya bahwa perjuangan ini sebenarnya sunyi dan sukar. Bukan hanya itu semua terlihat saat kamu jatuh saat kamu berada dalam kesulitan itu akan semakin terlihat jelas bahkan bisa di itung jari siapa yang benar - benar denganmu. Itu hal biasa dalam perputaran kehidupan ini saya sudah mengalami banyak hal dan sekarang saya bagikan nasihat ini pada kalian sebagai anak muda. Untuk apa? Supaya kalian lebih peka dan jika memang semua yang saya katakan ini benar maka teruslah berbuat baik, bersikap ramah menjadi dirimu sendiri yang tidak memandang apapun jika memang itu benar karena hidup ini adalah timbal balik. 

Kita mungkin tidak terlihat kaya, sedikit ilmu tidak gaya atau tidak gaul, tidak cekatan atau kurang bekerja keras seperti mereka atau kita terlihat seperti pemalas tak apa itu adalah prasangka mereka terhadap kita, karena sejujurnya kita tidak memerlukan pandangan mereka seperti apa pada kita yang penting itu kita tidak mempunyai perangai demikian itu jauh lebih bijaksana. Ingat hidup itu timbal balik. Kemudian beliau pergi pamit meninggalkan meja untuk menyambut tamu - tamu yang lain yang baru datang.

Setelah mendengar saya tak berkomentar hanya mendengarkan nasihat dan pengalaman hidup beliau berfikir ulang ini pelajaran penting bukan hanya untuk saya tapi untuk kita semua. Kita memang tidak pernah tau mana yang tulus atau mana yang tidak tulus hanya sang "Maha" yang mengetahui segala. Apapun yang kita hadapi ini adalah sebagai konsekuensi hidup semoga kita menjadi mahluk yang paling manusiawi dalam bersikap, bertindak, berbicara dengan sesama.

Friday, 20 January 2017

Jangan Marah, oranglain layak menerima prilaku dan ucapan baikmu !

Terkadang kita selalu terlambat untuk belajar dari semua kesalahan, kita tidak tahu berapa banyak orang yang tidak bersalah tapi tergores hatinya karena prilaku dan ucapan kita saat kita sedang marah , kesal  dan saat kita sendiri tidak mampu mengendalikan diri kita sendiri.
Haruskah seperti itu?
Manusia macam apa kita? 
Sehingga selalu oranglain yang menjadi sasaran kemarahan kita, tak mau belajarkah, mungkin kita marah atau kesal bukan sekali, saya tahu mungkin sering tapi pantaskah oranglain yang harus menerima sikap dan ucapan buruk kita, itu tidak adil rasanya. Bahkan agama juga mengajarkan kita dengan detail saat kita berada pada situasi ini. Dan jika memang harus marah, marahlah, jika memang kesal, kesalah tapi saat sedang demikian menyepilah selamatkan dirimu sendiri sebelum oranglain yang tidak bisa membaca situasimu yang datang dengan penuh keriangan atau kepedulian yang besar kepadamu menjadi sasaran kemarahan dan kekesalanmu. 
Belajarlah selalu dari kesalahan, karena kita adalah pembelajar sejati. 
Hidup di dunia ini bukan hanya soal kita menjadi baik atau menjadi buruk tapi soal bagaimana kita bersikap kepada kebaikan dan keburukan itu.
 

Tuesday, 17 January 2017

Tentang Kamu

Tentangmu laki - laki yang mereka sebut biasa,
namun sangat istimewa
entah apa yang kau bisikan pada hujan
hingga tiap tetesnya hanya tentangmu yang terdengar.
entah apa yang kau bisikan pada  tanah
hingga tiap langkahku hanya tertuju padamu.

Tentangmu laki - laki  yang mereka sebut biasa,
namun sangat istimewa
aku tak pernah berani menitipkan hatiku pada siapapun
denganmu aku percaya engkau bisa menjaganya dengan utuh
seperti mentari pagi yang selalu memberikan kehangatan
seperti malam yang selalu memberikan ketenangan

Tentangmu laki - laki yang mereka sebut biasa,
namun sangat istimewa
seperti sajak dan puisi nadaku beralun
tak ada kata yang tepat yang bisa menggambarkan dirimu
saat mereka berkata engkau biasa aku justru hanyut
menatap bintang - bintang dimata cokelatmu
bagaimana aku bisa berpaling sedang tujuanku ada didepanku

Tentangmu laki - laki yang mereka sebut biasa,
namun sangat istimewa
aku dan engkau adalah cinta yang tak pernah selesai.
sampai waktu berubah menjadi debu
terbang melintasi imaji tak terbatas. Selamanya.

(Jakarta, 17 Januari 2017)

Friday, 13 January 2017

Sepi dikedalaman jiwa

Aku telah lama mengakrabimu
bersenandung untuk memecahmu
bergurau untuk mengusirmu
menenggelamkanmu di samudera kedalaman.
Aku tak mendambamu
Telah kukunci kau didalam jeruji
agar kau tak  merangsek masuk di keheningan jiwa
atau

pergilah ke taman sebelah
agar mereka tak gaduh dibalik batu - batu yang menancap tajam itu.
aku tak mendambamu sungguh aku tak ingin melihatmu
pergilah, jangan kembali ke berandaku
aku ingin bunga - bunga tumbuh, jangan kau siram dengan hujan debu
yang mematikan.

Meski kau mengirimkan bau tubuhmu lewat samudera
memanggilku dengan rintihan yang memekikan telinga
aku tak akan menolehmu
karena, telah kularungkan engkau bersama serbuk kenangan
yang telah aku sapu bersama angin.

(Jakarta, 13 Januari 2017)






Thursday, 12 January 2017

Aku yakin hatimu tak sekeras pikiranmu.

Hari ini aku akan mengajakmu untuk mencintai kehidupanmu sendiri, kehidupan kita yang sedang kita jalani saat ini. Terkadang tanpa sadar kita begitu keras pada diri kita sendiri, tak sadarkah bahwa sebenarnya ia lelah? kita memaksanya untuk terus melakukan apa yang telah pikiran perintahkan pada kita, tak mau kah engkau melibatkan hati didalamnya?..
Aku yakin hatimu tak sekeras pikiranmu. 

Kita begitu gila menyelesaikan banyak hal, memaksa untuk meraih banyak hal, memaksa dirimu untuk terus bekerja melakukan semua hal, mengambil jalan yang sulitpun engkau lakukan, merangkak, menangis dan selalu ada alasan jika  berhenti maka akan gagal, jika berhenti maka semua akan berantakan. Duduklah sebentar, ambilah nafas perlahan dan rasakanlah bahwa nafas itu begitu berat, ia sebenarnya memberitahu kepadamu sebelum semua organ yang lain menolak semua perintahmu.  

Tak sadarkah bahwa diri kita sendiri sudah menampung banyak beban, beban kehidupan kita sendiri, beban keluarga atau bahkan oranglain yang kita perduli terhadapnya. tak maukah engkau sedikit berbaik hati pada dirimu untuk sejenak beristirahat dan menikmati prosesnya dengan perlahan.  Terkadang kita selalu memilih jalan sulit dan menekan diri kita sendiri hanya karena kita merasa penting untuk meraihnya, mengerjakannya atau bahkan memilikinya. Memang terkadang kita merasa perlu menghukum diri kita sendiri, tapi untuk apa?..
kenapa kita tidak memilih jalan yang mudah? apa salahnya, apalagi diri kita sendiri belum siap untuk mengambil jalan yang demikian itu.

Cintai kehidupanmu, cintai dirimu sendiri karena tidak akan ada yang perduli pada dirimu selain dirimu sendiri. Fisik kita boleh dilindungi oleh orang - orang yang terdekat kita, orang - orang yang perduli pada kita , tapi di dalam tidak akan ada yang bisa menjangkaunya kecuali dirimu sendiri. 
Semua hal yang sulit akan membesarkan hati, mengokohkan tubuh kita jika kita mencintai kehidupan kita. Kita boleh dihadapkan pada ujian yang sulit, memilukan membuat kita tergugu menangis saat mengenangnya, membuat kepala ingin pecah saat memikirkanya tapi kita jangan lupa untuk mencintai dirikita dan kehidupan kita kita sendiri selama kita melakukannya dengan baik semua hal yang menyakitkan sekalipun akan semakin mengokohkan kita. 


Wednesday, 11 January 2017

Kosong

Aku menatap dalam layar itu, kertas kosong belum terisi, 
aku telah kehilangan insipirasi, imajinasiku kosong 
tak ada yang tersisa. aku tak tahu, apa yang harus kutuliskan 
entah apa yang terjadi terkaanku tak sampai  hingga mendesing sepi.
Aku hampir menyerah pada pendar yang telah tergambar, 
jemariku tak mampu menuliskanya hampir menyerah, namun layar itu seolah berkata :
"tuliskanlah, Aku tau engkau memendamnya begitu dalam". 

Kerinduan itu dalam mengusik, menelisik sampai pada 
titik yang tak mampu ku jangkau.
Engkau yang selalu ada dalam benak tak pernah beranjak.
Selalu mengusiku, tak lelahkah atau engkau menungguku 
untuk menyerah pada jarak?
Telah kubutakan mataku agar aku tak melihatmu dalam bayang, 
telah kutulikan telingaku agar aku tak mendengarmu dalam setiap jeda waktu
dan telah kubungkam mulutku agar aku berhenti berkata.

Nyatanya bagaimana bisa aku memendamnya begitu lama ia seperti jutaan sel kanker
terus menjalar merusak semua bagian hingga sang pemilik rubuh. 
haruskah engkau melihatnya dalam kondisi demikian? 
limbung kehilangan segala, aku menyerah.
biarkan waktu memeluk bisu dibatas senja
aku telah sampai padanya pada titik dimana ketabahanku seperti matahari
tatkala menumbuhkan bunga di nadi sunyi.
  

Jakarta, 11 Januari 2017.