Thursday, 18 February 2016

Pertapa Setia

Seseorang yang senantiasa tersenyum riang di hadapanmu,
Ketahuilah dia sering menyapu air matanya tatkala sendirian.
Seseorang yang senantiasa bergurau senda di hadapanmu,
Ketahuilah dialah seorang pemurung tatkala sendirian.
Seseorang yang senantiasa menyuntik kata-kata semangat dan perangsang kepadamu,
Ketahuilah tatkala itu dia sedang menyulam hatinya yang retak seribu.
Seseorang yang senantiasa kelihatan kuat di hadapanmu,
Ketahuilah dialah yang senantiasa mengadu lemah di hadapan Allah sang Pemiliknya.
Seseorang yang ketawanya menceriakan harimu,
Ketahuilah tatkala itu dia sedang membalut duka di dadanya.
Seseorang yang sering memberi hadiah kepadamu,
Ketahuilah dialah insan yang tidak pernah mendapatkannya.
Seseorang yang bebas mengeluarkan cetusan fikirannya,
Ketahuilah dialah seorang ‘pertapa setia’ yang tidak mampu bersuara tatkala sendirian.

#rentiphoto #OriginalPhoto #tamanbunganusantara #cianjur #tamanjepang

Friday, 15 January 2016

Materi Lengkap Mata Kuliah Object Oriented Programing (OOP)





Pendahuluan Pemodelan Sistem Berbasis Objek
Sejarah Object Oriented

Konsep awal programming (Basic) dengan kekuatan GOTO statement, ini   merupakan Non Procedural Language.
Procedural Language / Bahasa pemograman terstruktur menghilangkan kelemahan GOTO konsep non procedural language
 Contoh : Pascal, COBOL, FORTRAN, BASIC dll
Object Oriented Programming, mengarah pada konsep object. Akhir tahun 1960 diperkenalkan pertama kali dengan bahasa SIMULA. Tahun 1970 dikembangkan Smaltalk.
 Bahasa pemrograman lainnya : Clipper 5.2 Java, Prolog dll

Visual Object Oriented Programming, tahun 1991 diperkenalkan pertama kali dengan bahasa Visual Basic oleh Microsoft
 Bahasa pemograman lainnya : Visual C++, Visual Foxpro 3.0, CORBA (Common Object Request Broker Architecture), dll

Pengembangan berorientasi objek merupakan cara berpikir baru tentang perangkat lunak berdasarkan abstraksi yang terdapat dalam dunia nyata. Dalam konteks pengembangan menunjuk pada bagian awal dari siklus hidup pengembangan sistem, yaitu survei, analis, desain, implementasi dan pemeliharaan sistem. Hal yang lebih penting dalam pengembangan berorientasi objek adalah konsep mengidentifikasi dan mengorganisasi domain aplikasi dari pada penggunaan bahasa pemrograman, berorientasi objek atau tidak. Click Download..

Thursday, 17 September 2015

Rumi dan Botol Minumannya


Suatu malam, Maulana Jalaluddin Rumi mengundang Syams Tabrizi ke rumahnya. Sang Mursyid Syamsuddin pun menerima undangan itu dan datang ke kediaman Maulana. Setelah semua hidangan makan malam siap, Syams berkata pada Rumi;
“Apakah kau bisa menyediakan minuman untukku?”. (yang dimaksud : arak / khamr)

Maulana kaget mendengarnya, “memangnya anda juga minum?’.
“Iya”, jawab Syams.

Maulana masih terkejut,”maaf, saya tidak mengetahui hal ini”.

“Sekarang kau sudah tahu. Maka sediakanlah”.
“Di waktu malam seperti ini, dari mana aku bisa mendapatkan arak?”.
“Perintahkan salah satu pembantumu untuk membelinya”.

“Kehormatanku di hadapan para pembantuku akan hilang”.

“Kalau begitu, kau sendiri pergilah keluar untuk membeli minuman”.

“Seluruh kota mengenalku. Bagaimana bisa aku keluar membeli minuman?”.

“Kalau kau memang muridku, kau harus menyediakan apa yang aku inginkan. Tanpa minum, malam ini aku tidak akan makan, tidak akan berbincang, dan tidak bisa tidur”.

Karena kecintaan pada Syams, akhirnya Maulana memakai jubahnya, menyembunyikan botol di balik jubah itu dan berjalan ke arah pemukiman kaum Nasrani.

Sampai sebelum ia masuk ke pemukiman tersebut, tidak ada yang berpikir macam-macam terhadapnya, namun begitu ia masuk ke pemukiman kaum Nasrani, beberapa orang terkejut dan akhirnya menguntitnya dari belakang.

Mereka melihat Rumi masuk ke sebuah kedai arak. Ia terlihat mengisikan botol minuman kemudian ia sembunyikan lagi di balik jubah lalu keluar.

Setelah itu ia diikuti terus oleh orang-orang yang jumlahnya bertambah banyak. Hingga sampailah Maulana di depan masjid tempat ia menjadi imam bagi masyarakat kota.

Tiba-tiba salah seorang yang mengikutinya tadi berteriak; “Ya ayyuhan naas, Syeikh Jalaluddin yang setiap hari jadi imam shalat kalian baru saja pergi ke perkampungan Nasrani dan membeli minuman!!!”.

Orang itu berkata begitu sambil menyingkap jubah Maulana. Khalayak melihat botol yang dipegang Maulana. “Orang yang mengaku ahli zuhud dan kalian menjadi pengikutnya ini membeli arak dan akan dibawa pulang!!!”, orang itu menambahi siarannya.

Orang-orang bergantian meludahi muka Maulana dan memukulinya hingga serban yang ada di kepalanya lengser ke leher.

Melihat Rumi yang hanya diam saja tanpa melakukan pembelaan, orang-orang semakin yakin bahwa selama ini mereka ditipu oleh kebohongan Rumi tentang zuhud dan takwa yang diajarkannya. Mereka tidak kasihan lagi untuk terus menghajar Rumi hingga ada juga yang berniat membunuhnya.

Tiba-tiba terdengarlah suara Syams Tabrizi; “Wahai orang-orang tak tahu malu. Kalian telah menuduh seorang alim dan faqih dengan tuduhan minum khamr, ketahuilah bahwa yang ada di botol itu adalah cuka untuk bahan masakan. Seseorang dari mereka masih mengelak;

“Ini bukan cuka, ini arak”. Syams mengambil botol dan membuka tutupnya. Dia meneteskan isi botol di tangan orang-orang agar menciumnya. Mereka terkejut karena yang ada di botol itu memang cuka. Mereka memukuli kepala mereka sendiri dan bersimpuh di kaki Maulana. Mereka berdesakan untuk meminta maaf dan menciumi tangan Maulana hingga pelan-pelan mereka pergi satu demi satu.

Rumi berkata pada Syams, “Malam ini kau membuatku terjerumus dalam masalah besar sampai aku harus menodai kehormatan dan nama baikku sendiri. Apa maksud semua ini?”.

“Agar kau mengerti bahwa wibawa yang kau banggakan ini hanya khayalan semata. Kau pikir penghormatan orang-orang awam seperti mereka ini sesuatu yang abadi? Padahal kau lihat sendiri, hanya karena dugaan satu botol minuman saja semua penghormatan itu sirna dan mereka jadi meludahimu, memukuli kepalamu dan hampir saja membunuhmu. Inilah kebanggaan yang selama ini kau perjuangkan dan akhirnya lenyap dalam sesaat.

Maka bersandarlah pada yang tidak tergoyahkan oleh waktu dan tidak terpatahkan oleh perubahan zaman.

(*Dari kumpulan kisah Maulana Jalaluddin Rumi)

Tuesday, 28 April 2015

Kepada Hati-hati Penyabar yang Telah Tabah Mengakrabi Sepi

Kau mengeluh betapa sering sepi menyelinap ke balik selimutmu
menjambret semua hangat yang tersimpan di situ.
Gelisah senyap khatam kau cumbui, kesepian tamat kau jamahi.
Kau merasa seperti narapidana yang dikurung di sel ekstrakdisi — benar-benar seorang diri.
Kau lupa, perjalanan itu sebenarnya tak begitu sunyi.
Hatimu ada, dia setia. Membersamai langkahmu tanpa perlu diminta.
Hatimu panglima perang bernyali jawara. Dia tak pernah menyerah meski tubuhnya penuh gulir luka

Akhirnya kau luangkan waktu melongok sejenak demi menjenguk si hati — dia yang selama ini kau diamkan karena takut merasa sakit lagi. Atau memang enggan kau akrabi atas alasan menjaga diri. Pelan kau rogoh kantung kemeja lawas yang tersimpan di lemari, mengambil anak kunci yang masuk kategori keramat selama ini.
Inilah momen paling syahdu dalam hidupmu– ketika anak kunci menemukan ulirnya, kau putar tanpa berpikir lama. Bunyi “klik” menguar ke udara, tanda hatimu kembali terbuka. Bangun dari hibernasinya sekian lama. Kau ambil waktu untuk memandanginya — hanya untuk sadar bahwa kini bentuknya tak lagi sama.
Ada luka yang menghiasi tiap lekukan sudutnya. Warnanya yang dulu merah muda kini berganti jadi marun tua. Hatimu tidak lagi mudah mengumbar tawa. Dia tenang, keras seperti pualam. Bulu kuduk di tengkukmu berdiri menyadari betapa sepinya hatimu selama ini. Dengan suara terlembut yang bisa mulutmu buat kau lontarkan tanya,

“Masihkah kau tabah, atau kali ini kita harus bersepakat untuk menyerah?”

Layaknya titah pandita raja ia menjawab dengan gagahnya, 

“Bertahanlah. Aku cukup tabah memanggul pedih. Kini giliranmu memangkas beban dengan perlahan melesap perih.” 

Sedang kamu tak lebih dari Tuan Kepala Batu. Nyeri yang datang tak cuma sekali membuatmu pongah meracah harapan-harapan baik di depan hidungmu
Sebenarnya kamu mengenal baik manusia yang hangat hatinya. Dulu, dulu sekali– di hadapanmu ia ceritakan mimpi dan harapan-harapan baik.
Kamu sempat percaya, bahkan turut bahagia hanya jadi pendengar setianya. Tapi kini cerita berganti dari roman jadi suspense yang menguji nyali. Sayangnya kamu terlalu terbiasa dengan dongeng yang isinya cuma putri, pangeran, dan akhir bahwa mereka hidup bahagia selamanya.
Jujur saja, sebagai manusia kamu sudah lupa rasanya bahagia. Bibirmu terlalu lama libur dari kegiatan senyum tulus dan gelak riang. Kamu lupa bagaimana hati bisa berdesir saat senang; kamu tak lagi tahu apakah jemari yang saling bertaut bisa menghasilkan gelenyar listrik — tubuhmu sudah diset untuk bergerak tanpa banyak telisik.
Kalau saja mengakrabi sepi bisa menghasilkan gelar akademik di depan nama, dijamin saat ini kamu sudah mengantungi gelar Doktor seperti lulusan S3.
Sayang, jadi pengepul sepi hanya memberimu seikat sunyi yang khidmat kamu peluk hingga saat ini.
Mulai saat itu harapan-harapan baik kau panggil pulang. Satu persatu kau angkat mereka ke depan hidungmu, kau pandangi lama-lama. Kemudian tanpa banyak bertanya kau racah mereka kecil-kecil agar bisa masuk ke saku celana.

Di pupilmu air mata sudah membangun menara. Pada halaman depan rumahmu kuat terpancang pohon duka. Sepi, sekian lama jadi kawan paling setia 

Hapalanmu soal sakit dan bagaimana mengakrabi sepi sudah sampai pada level tertingginya. Kini kamu mengerti bagaimana nyeri akan merambat dari tengah dada ke kebasnya tangan setiap melihatnya meremehkan perhatian. Kamu sudah hapal di luar kepala bagaimana pucuk hidung meremang setiap namanya berkelebat di kepala.
Orang bilang kamu menyerah pada sepi dan sakit yang tak pernah alpa menghampiri. Kamu enggan berjuang mengalahkan keheningan yang meliputi hati.
Apa yang salah dengan mengakrabi sepi yang sedikit berbalut rindu? Tanganmu menyisip ke kantung celana, tempat racahan harapan-harapan baik tersimpan sekian lama. Kali ini kamu lebih memilih percaya pada firasat bahwa sesuatu yang menjanjikan akan datang pada akhirnya.
Kau tiriskan rendaman duka yang tertinggal di ember berjam-jam lamanya. Berjam-jam yang jauh lebih panjang drai perhitungan manusia biasa. Pada pohon duka yang gagah berdiri kau letakkan mereka. Dengan jujur kau akui sedihmu, ikhlas kau nyatakan sepimu — tapi bukan berarti kau tak sabar menunggu.
Kau sesap pahit kenangan yang kini datang dengan lebih santun. Alih-alih mengeluh kau malah menghitung tonjokan ke ulu hati yang datang beruntun. Duka dan sendiri tak lagi abu-abu di matamu. Mereka berubah jadi ungu, pink, bahkan biru lewat imajinasimu.
Tapi semenjak kau tahu kehilangan hanya butuh dilawan dengan doa — mulai saat itu kesepian tak lagi harus menyisakan air mata 

Tidak ada yang pantas disalahkan. Kalian hanya dua manusia yang berjalan di dua cabang berlainan.
Baginya harapan seperti energi terbarukan. Sedang bagimu, sejak saat itu, ia seperti anak hilang yang tak pernah lagi pulang.
Kalian dua manusia cerdas yang sama-sama tahu apa yang harus disudahi. Hanya sempat terlampau pengecut untuk berani menghadapi sendiri.
Bagimu harapan tinggi harus segera dipangkas sependek rambut tentara. Sementara baginya ia perlu belajar memperlakukanmu seperti manusia. Bukan warung makan Padang yang bisa didatangi seenaknya.
Hari-harimu jadi zombie yang tak bisa berpikir dengan akal sehat sudah lewat masanya. Kini kamu bisa memaksa diri bangun di pagi hari, meski namanya tetap belum terhapus dari hati. Impianmu perlahan mulai kau kejar lagi, walau sesekali kau bayangkan betapa nyaman jika ia ada di sisi untuk mendampingi. Perlahan kau mulai bisa hidup untuk diri sendiri, meski jujur kau tahu kau bukanlah orang yang sama lagi.
Seklise apapun kedengarannya kekuatan tak lain datang dari doa-doa kecil yang kau uarkan ke udara. Kau percaya doa menguatkanmu, tanpa sentuh tangan langsung doamu pun mengasihinya. Dalam tiap sujud dan tangkup tangan kau sisipkan namanya ke telinga Sang Pencipta. Berharap Ia mendengar permohonan HambaNya yang tak punya daya.
Tak ada kesedihan yang pantas disantuni. Hati tabahmu pun mengerti kau pantas mendapatkan lebih dari yang gigih kau perjuangkan saat ini

Sepanjang liku jalan ini kau belajar. Kau hanya boleh menengok lagi pada ia yang bisa menjaga hati. Karena kebanyakan manusia lebih menghargai ia yang hengkang tanpa pernah melongok lagi.
Kini kau tahu, beberapa mereka yang memilih pergi memang tak ingin melihatmu jungkir-balik jumpalitan mengusahakannya kembali. Bagi mereka kamu hanya tanah lapang persinggahan, persimpangan yang harus dilalui. Dan betapa bodohnya dirimu jika keras kepala memperjuangkan ia yang bahkan tak mau lagi sekadar menitip hati.
Kau pernah hidup berjubah rindu. Sajak-sajak pilu sempat berloncatan tanpa henti di kepalamu. Tapi kini kau tahu, kesedihan macam ini tak pantas disantuni. Tiba saatnya kau hidup dengan gagah berani.
Kini kamu tak ingin berdebat siapa yang kalah dan siapa yang menang dalam pertandingan soal perasaan. Telah tuntas kau makamkan berbatang-batang perdu kesepian. Jika sepi memang sudah tertakdirkan sampai hari bahagia itu datang, mengelabuinya dengan kehangatan semu justru bisa jadi sebuah kejahatan.
Sedang kamu, dan hati tabahmu bukanlah pecundang.


(Tuhan tak akan menabahkan hatimu tanpa rencana. Sekarang giliranmu bertahan sekuat tenaga)
#Gadis#RentiSusanti
by hipwee

Thursday, 19 March 2015

Nasihat Mulia Rasulullah SAW Kepada Putrinya

Suatu hari Rasulullah SAW menemui putrinya yang bernama Fatimah Az-Zahra yang sedang menggiling syair (sejenis tumbuhan padi) dengan menggunakan penggilingan yang terbuat dari batu sambil menangis.

Melihat putrinya menangis, Rasulullah SAW bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai Fatimah? Semoga Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis.”

Fatimah berkata, “Wahai Ayah, penggilingan dan urusan-urasan rumah tangga yang menyebabkan aku menangis, kiranya ayah sudi untuk meminta Ali (suami Fatimah) untuk mencarikan seorang jariyah (pembantu) untuk membatuku menggiling dan mengurus pekerjaan-pekerjaanku di rumah?”

Kemudian Rasulullah SAW bangkit dan mendekati penggilingan itu seraya berucap, ”Bismillahir rahmaanir rahiim.” Dengan izin Allah Swt, penggilingan itu berputar tanpa ada yang menggerakkan seraya mengucapkan tasbih kepada Allah SWT dalam berbagai bahasa sehingga habislah butiran-butiran syairitu.
Setelah itu, Rasulullah SAW mendekat seraya berkata kepada penggilingan, “Berhentilah berputar dengan izin Allah SWT. Kemudian penggilingan tersebut berhenti berputar seraya berkata, “Wahai Rasulullah Saw, seandainya engkau perintahkan untuk menggiling syair dari masyriq hingga maghrib niscaya hamba akan menggilingnya sampai habis semuanya. Sesungguhnya hamba telah mendengar firman Allah Swt yang berbunyi dalam QS. At-Tahrim [66]: 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(Qs. At-Tahrim (66) : 6)

Setelah melantukan ayat tersebut, penggilingan itu berkata, “Wahai Rasulullah SAW hamba sangat takut menjadi batu yang menjadi bahan bakar api neraka kelak.”
Rasulullah SAW berkata kepada penggilingan tersebut, “Bergembiralah, karena engkau salah satu batu mahligai Fatimah Az-Zahra yang ada di dalam surga”. Setelah mendengar kabar tersebut, penggilingan tersebut diam seperti sedia kala.

Kemudian Rasulullah SAW memberikan nasihat kepada putrinya,

  1.  Wahai Fatimah, seorang perempuan manapun yang menggilingkan tepung untuk suami dan anak-anaknya, maka Allah SWT akan menuliskan suatu kebaikan dan menaikkan derajatnya dari setiap biji gandum yang digilingnya.
  2. Wahai Fatimah, seorang perempuan yang menggilingkan gandum hingga ia berkeringat, maka Allah SWT akan menjauhkan dirinya dari neraka tujuh buah parit.
  3. Wahai Fatimah, seorang perempuan yang meminyaki rambut anaknya kemudian menyisir rambut mereka dan mencuci pakaian, niscaya Allah SWT akan mencatatkan pahala baginya seperti orang yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada seribu orang yang telanjang.
  4. Wahai Fatimah, seorang perempuan yang yang menghalangi hajat tetangganya, maka Allah SWT akan menghalangi meminum air telaga Kautsar pada hari kiamat.
  5. Wahai Fatimah, ketahuilah yang paling utama adalah bahwa ridla suami adalah ridla Allah SWT dan kemarahan suami merupakan kemarahan Allah SWT.
  6. Wahai Fatimah, seorang perempuan yang sedang hamil akan dicatatkan kebaikan-kebaikan dan dihapuskan kejahatan darinya serta para malaikat akan beristigfar untuknya.
  7. Wahai Fatimah, seorang perempuan yang hendak melahirkan anaknya, Allah SWT akan mencatatnya sebagai pahala seperti orang yang berjihad di jalan Allah SWT.
  8. Wahai Fatimah, seorang perempuan telah melahirkan anaknya, maka dia terbebas dari dosa-dosa seperti keadaan pada hari dilahirkan oleh ibunya. Dan jika meninggal ia tidak menanggung dosa sedikit pun hingga kuburnya menjadi taman surga bagi dirinya.
  9. Wahai Fatimah, seorang perempuan yang melayani suaminya sehari semalam dengan baik, lemah lembut dan ikhlas maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya dan kelak akan mengenakan pakaian berwarna hijau di surga dan memberikan kebaikan setiap helai bulu dan rambut yang ada di tubuhnya.
  10. Wahai Fatimah, seorang perempuan yang tersenyum manis dan lembut dihadapan suaminya akan dipandang Allah SWT dengan pandangan penuh rahmat.
  11. Wahai Fatimah, seorang perempuan yang menyiapkan tempat istirahat bagi suaminya dan menata rumah dengan baik hati dan sabar, maka malaikat akan menyeru, ”Teruslah beramal, Allah Swt. akan mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan akan datang.”
  12. Wahai Fatimah, seorang perempuan yang meminyaki rambut dan janggut suaminya, memotong kumisnya, serta mengguntingkan kukunya, maka Allah SWT akan memberinya minuman dari sungai-sungai surga dan Allah SWT memudahkan saat sakaratul mautnya kemudian menjumpai kuburnya bagaikan taman-taman surga. Selain itu, Allah SWT akan menyelamatkan dirinya dari api neraka dan selamatlah ia dari titian shirat.
Sungguh Rasulullah SAW teladan mulia, bertutur kata lembut, berjiwa ksatria. Ia selalu memberi nasihat bermanfaat, memberi semangat pada putrinya yang telah penat, mencontohkan keistimewaan wanita yang bertaqwa.

Wallah A’lam.